BABAD DALEM
DIMADE
PENDAHULUAN
BABAD
Terlebih
dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida
Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara - Batari junjungan dan
leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur
yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka. Juga agar
tidak terkena malapetaka dari Ida Sanghyang Saraswati. Semoga kami semuanya.
serta keluarga dan keturunan kami mendapatkan keselamatan, kesejahteraan sampai
kelak di kemudian hari di dunia ini.
“Om
Siddha rastu. Om Ksama sampurna ya namah
swaha”.
Sebagai
pendahuluan ceritera, tersebutlah di kawasan Jawa, ada pendeta maha sakti
bernama Danghyang Bajrasatwa. Ada putranya Iaki-laki seorang
bernama Danghyang Tanuhun atau Mpu
Lampita, beliau memang pendeta Budha, memiliki kepandaian luar biasa serta
bijaksana dan mahasakti seperti ayahnya Danghyang Bajrasatwa. Ida Danghyang Tanuhun berputra lima orang, dikenal dengan sebutan Panca Tirtha. Beliau Sang Panca Tirtha
sangat terkenal keutamaan beliau semuanya.
Putra- Putranya :
1. Mpu Gnijaya
2. Mpu Semeru
3. Mpu Ghana
4. Ida Mpu Kuturan
5. Ida Mpu Bharadah
Beliau yang sulung bernama Mpu Gnijaya. Beliau membuat pasraman di
Gunung Lempuyang Madya, Bali Timur, datang di Bali
pada tahun Isaka 971 atau tahun Masehi 1049. Beliaulah yang menurunkan Sang Sapta Resi - tujuh pendeta yang
kemudian menurunkan keluarga besar Pasek
di Bali. Adik beliau bernama Mpu
Semeru, membangun pasraman di
Besakih, turun ke Bali tahun Isaka 921,
tahun Masehi 999. Beliau mengangkat putra yakni Mpu Kamareka atau Mpu Dryakah
yang kemudian menurunkan keluarga Pasek Kayuselem. Yang nomor tiga bernama Mpu Ghana, membangun pasraman di Dasar Gelgel, Klungkung datang di Bali pada tahun Isaka 922 atau tahun Masehi 1000.
Yang nomor empat, bernama Ida Empu Kuturan atau Mpu Rajakretha, datang di Bali tahun
Isaka 923 atau tahun Masehi 1001, membangun pasraman di Silayukti, Teluk Padang atau Padangbai Karang asem.
Nomor lima bernama Ida Mpu Bharadah atau Mpu Pradah,
menjadi pendeta kerajaan Prabu Airlangga
di Kediri, Daha, Jawa Timur, berdiam di Lemah Tulis, Pajarakan, sekitar
tahun Masehi 1000.
Beliau Mpu Kuturan demikian tersohornya di
kawasan Bali, dikenal sebagai Pendeta pendamping Maharaja Sri Dharma Udayana Warmadewa, serta dikenal sebagai perancang
pertemuan tiga sekte agama Hindu di Bali, yang disatukan di Samuan Tiga ,
Gianyar. Beliau pula yang merancang keberadaan desa pakraman - desa adat serta
Kahyangan Tiga - tiga pura desa di Bali, yang sampai kini diwarisi masyarakat.
Demikian banyaknya pura sebagai sthana Bhatara dibangun di Bali semasa beliau
menjabat pendeta .
negara, termasuk Sad Kahyangan
serta Kahyangan Jagat dan Dhang Kahyangan di kawasan Bali ini. Nama beliau
tercantum di dalam berbagai prasasti dan lontar yang memuat tentang pura,
upacara dan upakara atau sesajen serta Asta Kosala - kosali yang memuat tata
cara membangun bangunan di Bali. Tercantum dalam lempengan prasasti seperti ini
"Ida
sane ngawentenang pawarah - warah silakramaning bwana rwa nista madhya utama.
lwirnya ngawangun kahyangan, mahayu palinggih Bhatara - Bhatari ring Bali
lwirnya Puseh desa Walyagung Ulunswi Dalem sopana hana tata krama maring Bali,
ayun sapara Bhatara lumingga maring Sad Kahyangan, neher sira umike sila
krama" yang artinya: Beliau Mpu Kuturan yang mengadakan aturan tentang
tatacara di dunia ini yang berhubungan dengan mikro dan makrokosmos dalam
tingkat nista madya utama (sederhana, menengah dan utama), seperti membangun
pura kahyangan, menyelenggarakan upacara sthana Bhatara-bhatari di Bali.
Seperti Pura Puseh Desa, Baleagung, Ulunswi, Dalem, dan karena ada tata cara di
Bali seperti itu berkenanlah para Bhatara bersthana di Sad Kahyangan, karena
beliau yang mengadakan tata aturan tersebut.
Adiknya
bernama Danghyang Mpu Bharadah
mempunyai putra Iaki-laki dan keutamaan yoga beliau bernama Mpu Bahula. Bahula berarti utama.
Kepandaian dan kesaktian beliau di dunia sama dengan ayahandanya Mpu Bharadah.
Beliau memperistri putri dari Rangdeng Jirah - janda di Jirah atau Girah yang
bernama Ni Dyah Ratna Manggali. Kisah ini terkenal dalam ceritera Calonarang.
Beliau Empu Bahula berputra Iaki bernama : MPU
TANTULAR
MPU TANTULAR BERGELAR
DANGHYANG ANGSOKA NATA
Mpu Tantular, yang sangat pandai di dalam berbagai ilmu filsafat. Tidak
ada menyamai dalam soal kependetaan, sama keutamaannya dengan Mpu Bahula,
ayahandanya. Mpu Tantular adalah
yang dikenal sebagai penyusun Kakawin
Sutasoma di mana di dalamnya tercantum "Bhinneka Tunggal lka" yang menjadi semboyan negara Indonesia.
Beliau juga bergelar Danghyang
Angsokanata. Keberadaan beliau di Bali diperkirakan sejaman dengan
pemerintahan raja Bali, Sri Haji Wungsu
pada tahun Masehi 1049.
Ida Mpu Tantular atau Danghyang Angsokanata, berputra empat :
1. Mpu Danghyang Panawasikan.
2. Mpu Bekung atau Danghyang Siddhimantra.
3. Mpu Danghyang Smaranatha..
4. Mpu Danghyang Soma Kapakisan.
Ida Danghyang Panawasikan,
bagaikan Sanghyang Jagatpathi wibawa beliau, Ida
Danghyang Siddhimantra bagaikan Dewa
Brahma wibawa serta kesaktian beliau. Ida Danghyang Asmaranatha
bagaikan Dewa Manobawa yang
menjelma, terkenal kebijaksanaan dan kesaktian beliau, serta Danghyang Soma
Kapakisan, yang menjadi guru dari Mahapatih Gajahmada di Majapahit, bagaikan Dewa Wisnu menjelma,
pendeta yang pandai dan bijaksana. Ida Danghyang Panawasikan memiliki putri
seorang, demikian cantiknya, diperistri oleh Danghyang Nirartha.
Ida Danghyang Smaranatha,
memiliki dua orang putra
bernama :
1. Danghyang Angsoka, berdiam di Jawa melaksanakan paham Budha.
2. Danghyang Nirartha, atau Danghyang Dwijendra, Peranda Sakti Wawu Rawuh dan dikenal juga dengan
sebutan Tuan Semeru. Beliau
melaksanakan paham Siwa, serta menurunkan keluarga besar Brahmana Siwa di Bali
yakni, Ida Kemenuh, Ida Manuaba, Ida Keniten, Ida Mas serta Ida Patapan.
Danghyang Angsoka sendiri berputra :
1. Danghyang Astapaka, yang membangun
pasraman di Taman Sari, yang kemudian
menurunkan Brahmana Budha di Pulau Bali.
2. Ida
Danghyang Soma Kapakisan yang berdiam di kawasan kerajaan Majapahit. berputra :
1. Ida Kresna Wang Bang Kapakisan, ketika Sri Maharaja
Kala Gemetmemegang kekuasaan di Majapahit.
Ida Kresna Wang Bang Kapakisan
Beliau mempunyai putra empat
orang, semuanya diberi kekuasaan oleh Raja Majapahit, yakni beliau yang sulung
menjadi raja di Blambangan, adiknya di Pasuruhan, yang wanita di Sumbawa. dan
yang paling bungsu mabiseke :
Dalem Ketut Kresna Kapakisan di kawasan Bali menjadi raja
di Bali.
Dalem Ketut Kresna Kapakisan menurunkan para raja
yang bergelar Dalem keturunan Kresna
Kepakisan di Bali.
Dalem
Ketut Kresna Kepakisan datang di Bali, menjadi raja dikawal oleh Arya
Kanuruhan, Arya Wangbang - Arya Demung, Arya Kepakisan, Arya Temenggung, Arya
Kenceng. Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Manguri, Arya Pangalasan, dan Arya
Kutawaringin, Arya Gajah Para serta Arya Getas dan tiga wesya: Si Tan Kober, Si
Tan Kawur, Si Tan Mundur.
Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan beristana di Samprangan, didampingi oleh l Gusti
Nyuh Aya di Nyuh Aya sebagai mahapatih Dalem. Tatkala itu Ida Dalem
memerintahkan para menterinya untuk mengambil tempat masing-masing. Ida
Arya Demung Wang Bang asal
Kediri di Kertalangu, Arya Kanuruhan di Tangkas, Arya
Temenggung di Patemon, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Dalancang
di Kapal,
Arya Belog di Kaba-Kaba, Arya Kutawaringin di
Klungkung, Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas di Toya Anyar, Arya Belentong
di Pacung, Arya Sentong di Carangsari, Kriyan Punta di Mambal, Arya Jerudeh di
Tamukti , Arya Sura Wang Bang asal Lasem di Sukahet, Arya Wang Bang asal Mataram
tidak berdiam di mana-mana. Arya Melel Cengkrong di Jembrana, Arya Pamacekan di
Bondalem, Sang Tri Wesya: Si Tan Kober di Pacung, Si Tan Kawur di Abiansemal
dan Si Tan Mundur di Cegahan Demikian dikatakan di Babad Dalem
IDE DALEM KETUT KRESNA KEPAKISAN
Kata pendahuluan penulis, dengan memanjatkan doa
ke hadapan Hyang Maha kuasa, dan kepada Leluhur karyanya berhasil denganselamat,
serta mengharapkan kesentosaan sampai turun-temurun.
Kemudian dilanjutkan dengan ceritera-ceritera raja yang bersifat
loba, moha dan murka, yang dibinasakan oleh Dewa Indra (Hyang Puru Hutakantep).
Silsilah Dalem
Ketut Kresna Kepakisan yang dimulai dari Mpu Bajra Satwa, turun-temurun.
Kyayi Patih Wulung dan kawan-kawan menghadap Raja Kala Gemet, mohon agar di
Bali segera diisi seorang adipati.
Dalem Ketut Kresna Kepakisan
dikirim ke Bali tahun Çaka 1274. (yogan, muni, netra, baskara). dibantu oleh
para Arya. Raja berkedudukan di Samprangan. sedangkan para Arya ditempatkan di
desa-desa yang dianggap rawan. Timbul pemberontakan-pemberontakan di desa-desa
Bali Aga seperti Batur, Songan, Cempaga, dan lain-lain. Dalem Ketut Kresna Kepakisan Adipati Bali hendak kembali ke Jawa,
tetapi tidak diijinkan oleh Gajah Mada, Adipati Bali dianugerahi pakaian
kebesaran dan Keris Si Ganja Dungkul. Adipati Bali mengadakan pembagian tugas
dan wewenang kepada warga Pasek keturunan Sapta Resi.
Sri Kala Gemet wafat. Diadakan sayembara untuk menjodohkan putri-
putri baginda. Dimenangkan oleh kerajaan Koripan dan Gagelang. Kemudian lahir
Sri Hayam Wuruk, yang nantinya
bertahta di Majapahit.
Adipati Bali, Dalem Ketut Kresna Kepakisan telah wafat, tinggal putra-putra
baginda.
1.
Ida I Dewa Samprangan, ber putra (Dalem Watu
Renggong)
2.
Ida I Dewa Taruk,
3.
Ida I Dewa Ketut Ngulesir lahir dari Ni Gusti Ayu
Tirta putri Sirarya Gajah Para.
4.
Ida I Dewa Tegal Besung, Anak bungsu yang lahir
dari Ni Gusti Ayu Kutawaringin putri Sirarya Kutawaringin,
Ida I Dewa Samprangan
menggantikan ayahnya menjadi raja berkedudukan Samprangan. tetapi, kurang mampu
memegang tampuk pemerintahan. Kyayi Bendesa Gelgel Klapodyana mencari Ida I Dewa Ketut Ngulesir ke Desa
Pandak. Dengan berbagai usaha, sampai-sampai Kyayi Bendesa Klapodyana
menyerahkan rumahnya untuk istana raja.

Di Majapahit diadakan suatu upacara besar-besaran dengan
mengundang adipati-adipati di luar Majapahit. dikisahkan perjalanan utusan
Majapahit ke tiap-
tiap daerah. Diuraikan persidangan raja Bali menerima utusan
Majapahit dan merencanakan perjalanan ke Majapahit.
Perjalanan Sri
Smara Kepakisan ke Majapahit, dengan rombongan di bawah pimpinan Kryan
Patandakan, Kryan Penatih dan Kryan Kubon Tubuh. Diuraikan liku-liku perjalanan
dengan segala keindahannya.
Selama di Majapahit, Sri
Smara Kepakisan selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan.
Suatu saat baginda Raja Majapahit menghadiahkan sebilah keris kepada Sri
Smara Kepakisan Adipati Bali yang
kemudian terkenal dengan
nama : Ki Bangawan Canggu,
Karena pada saat kembali ke Bali, keris itu pernah jatuh di
Bangawan Canggu, sedang namanya semula adalah Ki Sudamala. Sri Smara Kepakisan
diundang oleh Adipati Madura untuk menghadiri upacara yajnya. Baginda sempat
singgah di Majapahit, dan memperoleh keterangan dari seorang pendeta yang bernama
Çiwa Waringin tentang sebab-musabah runtuhnya Majapahit.
Sri
Smara Kepakisan wafat setelah disucikan (di-diksa). oleh Mpu
Kayu Manis dari Keling, tahun 1882 (sapangranga dwipak agni surya = 1460
Masehi). Diganti oleh Sri Watu Renggong
( Putra dari Ide IDewa Samprangan).
Pada masa pemerintahan Dalem
Watu Renggong datang Dang Hyang Nirartha ke Bali, bersama anak istrinya.
disebutkan pula alasan beliau meninggalkan Brangbangan dan riwayat
perjalanannya sampai ke Gelgel. Dang
Hyang Nirartha beranjangsana ke
Padangbai, Danghyang Nirartha dan Kyayi Dauh Baleagung langsung ke
Padangbai. Kesusastraan berkembang baik. Karangan-karangan Dang Hyang Nirartha:
Gegutuk Menur, Cara Kusuma, Ampik, Legarang, Mahisa Langit, Darma Pitutur,
Mahisa Megat Kung, Darma Putus, Usana Bali, Anyang Nirartha, Wasista Sraya,
Sebun Bangkung. Karangan Pangeran Dauh: Rareng Canggu Saha Wilit, Wukir
Padelengan, Segara Gunung, Karas Nagara, Jagul Tuwa, Wilet Mayura, Anting-
anting Timah. Peristiwa penyerangan ke Brangbangan yang dipimpin oleh Kyayi
Ularan, Sri Juru terbunuh. Kemudian Kyayi Ularan pindah ke Patemon. Pada masa
jayanya Dalem Watu Renggong,
Ida I Dewa Tegal Besung wafat. Meninggalkan Putra-putranya, yaitu:
1. I Dewa Anggungan,
2. I Dewa Gedong Arta,
3. I Dewa Nusa,
4. I Dewa Bangli,
5. I Dewa Pagedangan.
Datang seorang utusan untuk mengislamkan baginda raja, bernama Ki Moder,
tidak berhasil. Para Menteri terkemuka : Kyayi Batan Jeruk, Kyayi Pinatih,
Kyayi Klapodyana dan para Arya yang lain, semua setia kepada raja menurut
jabatan dan tempatnya masing-masing.
Dalem
Watu Renggong ingin menjadi seorang Pendeta (Begawan),
Mengundang Danghyang Angsoka untuk Nabe, beliau tak berkenan, tetapi merestui
agar berguru kepada Danghyang Nirartha,
tercipta kidung Sarakusuma dan Smara Racana.
Kemudian Pendeta Buda
Astapaka datang ke Bali, maka di Bali mulai diadakan upacara yajnya api
(homa). Semua musuh yang ingin menyerang Bali, utamanya musuh dari luar dapat
diusir.
Contohnya : pertahanan di Kelahan. Melakukan
anjangsana ke daerah-daerah kekuasaannya yaitu Lombok dan Sumbawa, mendirikan
padarman di Lingsar. Memberikan
piagam penghargaan (prasasti) pada pemuka-pemuka masyarakat.
Dalem Watu Renggong wafat
tahun 1472 Çaka(= sapranga, pandita, catur, janma), tahun 1550 Masehi.
Putra Dalem Watu Renggong :
1.
Ida I Dewa Pemahyun
2. Ida
I Dewa Dimade (Seganing).
Putra-putra Beliau Diasuh oleh putra I Dewa
Tegal Besung yaitu: I Dewa Gedong Arta, I Dewa Anggungan, I Dewa Bangli, I Dewa
Pagedangan.
I Dewa Pemahyun (Bekung)
bertahta menjadi raja dengan patih I Gusti Batan Jeruk. Timbul peristiwa
perebutan kekuasaan yang dipimpin oleh I
Gusti Batan Jeruk tampil Kyayi
Manginte untuk mempertahankan kerajaan bersama Kyayi Kubon Tubuh dan lain-lain.
Kedua putra raja Watu Renggong berhasil diselamatkan oleh I Gusti Kubon Tubuh.
Terjadi pertempuran hebat, I Gusti Batan Jeruk
mengalami kekalahan, beliau gugur tahun 1482 Çaka ( bahu, pasa, yoga, bwana)=
1560 Masehi, Ki Gusti Nginte menggantikan menjabat Patih Agung. Kryan Pande,
putra Kryan Dauh Bale Agung, yang ikut pada peristiwa I Gusti Batan Jeruk,
diampuni oleh Dalem, kemudian berhasil mengalahkan lawan-lawan di Sumbawa dan
Tuban. Tampak kelemahan dan ketidakbijaksanaan
Dalem Bekung memegang kendali pemerintahan.
Dikisahkan tentang Ida Telaga dan saudara-saudaranya, Karangan Ida Telaga;
Ender Rangga Wuni, Amerta Masa, Amurwa Tembang, Patol, Wilit Sih Tan Pegat,
Rareng Taman, Rara Kaduri, Kebo Dungkul, Caruk Mirta Masa, Kakangsen, Tepas.
Peristiwa terbunuhnya I Gusti Telabah, yang mengakibatkan gugurnya Ki Gusti
Pande dan kawan-kawan. Tercipta kidung Arjuna Pralabda. Ki Gusti Jelantik
dikirim untuk menyerang Pasuruhan. Beliau gugur dalam pertempuran tanpa
senjata. kemudian lahir putranya, diberi nama I Gusti Jelantik Bogol.
Dalem Bekung digantikan oleh Dalem Anom Seganing. Keamanan pulih
kembali. Sasak dikuasai lagi pada tahun Çaka 1547, Sumbawa tahun Çaka 1552. Ki
Gusti Pinatih mengadakan perlawanan pada raja, dapat diatasi oleh Ki Gusti
Agung Widya (Patih).
Masa
kerajaan Dalem sgening
Putra-putra Dalem Seganing 16 orang antara lain
:
1.Ida I Dewa Anom Pemahyun,
2.Ida I Dewa Dimade,
3.Ida I Dewa Rani Gowang,
4.Ida Dewa Karangasem
Dan
lain- lain ( tidak diceritakan)
Pernikahan Ida I Dewa Anom Pemahyun (putra sulung Dalem Seganing) dengan
Sri Dewi Pemahyun (putri tunggal Dalem Bekung), melahirkan :
Putra
IDewa Anom Pemayun :
1.Ida I Dewa Anom Pemahyun (*) dan
2.Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade,(**)
Ida I Dewa Anom Pemahyun menjemput Dalem Bekung. ke Purasi agar
kembali ke Gelgel.
Tahun Çaka 1572 Kyayi Lurah Singarsa menghadap
Dalem Seganing, memohon agar cucu baginda berkenan menerima putrinya sebagai
permaisuri, Ida I Dewa Anom Pemahyun (*) (putra Dalem Seganing) sebagai
penguasa daerah Singarsa (Sidemen) dengan Bagawanta Mpu Sukaton (Ida Pedanda
Wayahan Buruan).
Dalem Seganing wafat tahun Çaka 1517. Digantikan
oleh putra yang sulung yaitu Ida I Dewa
Anom Pemahyun (*). Terjadi
perebutan kekuasaan, Id a I Dewa Anom
Pemahyun(*) beserta putranya Ide I Dewa Anom
Pemayun Dimade(*1) pindah ke Purasi.
Tahta kerajaan digantikan oleh adiknya Ida I Dewa Anom Pemayun Dimade (**)
( Dalem Dimade ) putra ke dua dari
Ide IDewa Anom Pemayun dengan patih Kryan Agung Maruti dimade,
Ida I Dewa Anom Pemahyun
serta putranya yaitu yang bernama :
Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade
bermukim di Purasi. Sempat
menyebarkan para Arya dan Pasek ke desa-desa untuk mengaturnya. Kemudian,
baginda pindah ke Tambega (Desa Ababi ) .
Pedanda Sakti Peling, pindah dari Gelgel ke Ulah Desa Sidemen.
Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade pindah dari Tambega ke Sidemen, menikah dengan I Gusti Ayu Sapuh
Jagat, berputra :
1.
Ida I Dewa Agung Gde Ngurah dan
2.
Ida I Dewa Agung Ayu Gde Raka Pemahyun.
Barang-barang pusaka, keris Ki Sudamala, dan lain-lain semua
dibawa ke Sidemen.
Terjadi perebutan kekuasaan di Gelgel, Ide Idewa Anom Pemayun Dimade (Dalem Dimade) pindah ke Guliang,
Kekuasaan dipegang oleh Kryan Agung Maruti. Kryan Agung Maruti
hendak menggempur Sidemen, tetapi gagal.
Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade (**) berusaha mengadakan pendekatan
dengan putra-putra Dalem Dimade di Guliang. Utusan berkali-kali dilakukan oleh
Kyayi Lurah Sidemen Cerawis. Kemudian Ida I Dewa Agung Jambe, pindah dari
Guliang ke Sidemen dan bermukim di Ulah bersama dengan kemenakan baginda yaitu
Ida I Dewa Agung Gde Ngurah. Mengadakan permusyawaratan untuk menyerang Kryan
Agung Maruti di Gelgel.
Kemudian penyerangan dilanjutkan, dan Gelgel (Kryan Maruti) dapat
ditaklukkan pada tahun Çaka 1626. Ida I Dewa Agung Jambe bertahta di Smarajaya
(Klungkung) raja pertama. Ida I Dewa Agung Gde Ngurah dilantik sebagai penguasa
daerah Singarsa berkedudukan di Sidemen.